Minggu, 11 Januari 2009

MENJADI SERUPA DENGAN ALLAH

Setelah sekian lama kita menjadi orang Kristen, kita harus sungguh-sungguh menemukan jiwa kekristenan yang sejati, hakekat kekristenan yang benar yang harus kita miliki.

Bila kita belum memiliki jiwa kekristenan yang benar, maka kita belum menjadi anak Allah yang berkenan kepada-Nya. Lalu apa artinya kekristenan kita bila tidak ada jiwa atau intinya? Masihkah kita berjalan mengarungi hidup ini dengan kekristenan tanpa jiwa kekristenan? Puaskah kita dengan pengalaman-pengalaman keagamaan kita yang kadang justru membuat kita menjadi angkuh di hadapan manusia dan di hadapan Tuhan. Pergi ke gereja, mengikuti liturgi atau misa, mengucapkan pengakuan iman di gereja, menyanyikan lagu-lagu rohani belumlah inti dari kekristenan itu sendiri.

Adalah kebodohan kalau seseorang merasa sudah menjadi umat Allah yang benar dan layak bagi-Nya hanya karena sudah melakukan kegiatan keagamaan seperti yang disinggung di atas. Semua itu hanyalah atribut lahiriah atau semacam baju luar saja. Tentu itu belum merupakan inti kekristenan. Bahkan pengalaman mujizat atau mengalami kuasa Tuhan bukan atau belumlah menjadi inti kekristenan yang sejati. Perlakuan istimewa Tuhan kepada kita yang menunjukkan bahwa kita adalah umat kesayangan-Nya, tidak bisa dijadikan ukuran bahwa kita adalah umat kesukaan-Nya.

Inti kekristenan pada hakekatnya adalah warna batin yang terus menerus diperbaharui untuk menjadi sewarna dengan Bapa. Maksud sewarna dengan Bapa adalah berkepribadian seperti Allah yang melahirkan kita. Jiwa atau inti kekristenan atau hakekat kekristenan yang sejati dapat kita peroleh melalui apa yang ditulis oleh Yohanes dalam Yohanes 1:13, “orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Ayat ini tidak boleh kita lalui begitu saja dan kita anggap tidak penting. Berangkat dari ayat ini kita menemukan maksud dan tujuan Tuhan dalam memilih kita. Di dalam ayat ini juga terkandung berita tentang rencana Allah yang kekal dan besar bagi umat pilihan-Nya.

Dilahirkan oleh Allah, ini adalah suatu peristiwa besar dalam kehidupan manusia dan lebih luar biasa dari kelahiran anak manusia secara fisik. Dalam teks bahasa Inggris versi King James: Which were born, not of blood, nor of the will of the flesh, nor of the will of man but God. Kata dilahirkan dalam teks aslinya adalah “egenneetheesan” kata ini dari akar kata gennao, yang bisa diterjemahkan be born, bring forth, conceive, be delivered of, gender, make, spring, yang pada intinya adalah bahwa kita telah diubah dengan nature yang berbeda dengan nature manusia pada umumnya.

Dilahirkan oleh Allah meliputi dua aspek : Pertama, kita diberi wewenang untuk memiliki apa yang disediakan Allah bagi pewaris-pewarisNya, yaitu kerajaanNya. Kedua, kita diberi kemampuan untuk berwatak atau berkarakter seperti Dia. Hal ini berati bahwa kita diberi kemampuan untuk menjadi serupa dengan Bapa setelah Allah mensahkan kita menjadi anak-anak-Nya.

Ini merupakan sebuah peristiwa besar, sebab dalam Perjanjian Lama kita tidak menemukan peristiwa besar seperti ini, juga dalam kepercayaan lain di dunia ini. Kelahiran dari atas ini terjadi ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Tidak ada mujizat yang besar dari ini. Kesungguhan Allah mengadopsi kita ini, Ia memberikan Roh-Nya didalam diri kita. “Di dalam Dia kamu juga -- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu -- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” (Ef 1:13). Dimeteraikan artinya distempel (Yun.esfragistheete, lengkapnya: esfragistheete too pneumati tees epangelias too hagio. Ingg: you were sealed with that holy spirit of promise).

Kejadian ini suatu peristiwa luar biasa yang menjadi titik tolak pengiringan kita kepada Tuhan. Titik tolak kita bukan karena kita mau memeluk suatu keyakinan agama. Bukan pula karena kita mau memiliki petualangan baru dalam hidup, yaitu memiliki sumber baru guna memperoleh kemudahan hidup, dalam hal ini kekristenan dan Tuhan menjadi alat memuaskan ambisi kita. Kekristenan menjadi kendaraan kita memenuhi maksud dan rencana Tuhan.

Sebenarnya maksud dan rencana Tuhan adalah menciptakan manusia yang berkualitas seperti diri-Nya. Untuk itu dalam kelahiran dari atas oleh Allah itu, Bapa memberikan kemampuan kepada kita untuk memenuhi kehendak-Nya. Kemampuan ini suatu anugerah yang lebih dari segala berkat yang bisa kita terima dari Tuhan. Kemampuan inilah yang harus dikembangkan atau dimanfaatkan agar encana-Nya digenapi dalam hidup kita masing-masing. Kemampuan inilah yang tidak dimiliki tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama.

Dengan cara inilah kita dipanggil untuk sempurna (bnd. Mat 5:48: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna). Perhatikan kata haruslah dalam ayat ini. Kata haruslah (Yn. esomai, yang juga dapat diterjemakan “hendaknya”) merupakan sebuah panggilan yang mutlak yang harus mengisi perjalanan hidup kita. Hal ini merupakan keharusan yang tidak boleh kita hindari. Hal yang lain bisa dihindari atau dikurangi intensitasnya, tetapi hal menjadi serupa dengan Bapa merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar.

Apalah artinya kelahiran seorang anak manusia apabila pada akhirnya ia tidak memiliki persekutuan dengan Tuhan dan dibuang kedalam api kekal. Lebih baik seseorang tidak pernah dilahirkan di dunia ini dari pada dilahirkan di dunia ini hanya untuk menjadi sekutu kuasa dunia dan memberontak kepada Tuhan. Apa artinya kelahiran kalau hanya menjadi permulaan dari kebinasaan kekal. Hidup terpisah dari hadirat Tuhan selama-lamanya.

Menjadi kehendak Bapa dalam hidup kita adalah kita bertumbuh menyerupai Dia. Inilah inti kekristenan itu. Tidak ada yang lebih besar dari hal ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: Kamu harus sempurna seperti Bapamu yang di sorga sempurna (Mat 5:48). Rasul Paulus menulis hal ini dalam Roma 8:29 : Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Tuhan Yesus yang adalah wujud Allah yang kelihatan menjadi cermin yang jelas bagi kita. Kita harus meneladani-Nya.

Oleh sebab itu, marilah kita kembali kepada maksud Tuhan yang agung ini dan memfokuskan diri kepada rencana agung-Nya. Jangan hanya terpaku pada usaha mengejar berkat-berkat Allah belaka, tetapi mengabaikan tujuan yang sesungguhnya dari karya Allah atas hidup kita, yaitu menjadi serupa dengan Allah. Mari kita terus mengejar inti kekristenan ini dan menjadikannya tujuan yang utama dalam kehidupan kita. Amin..

JALAN YANG SUKAR

Dewasa ini muncul berbagai pengajaran yang menyatakan secara langsung maupun tidak langsung, bahwa kekristenan adalah jalan yang mudah.

Jalan yang berlimpah berkat, rahmat, sukacita dan berbagai kemudahan dalam hidup. Memang kekristenan adalah jalan yang terbaik, tetapi bukan jalan yang gampang. Pengajaran yang menekankan bahwa kekristenan adalah jalan yang mudah memiliki dampak yang negatif bagi umat Tuhan:

Umat Tuhan cenderung duniawi

Kekristenan yang diajarkan sebagai jalan yang mudah, pada umumnya menekankan hal-hal duniawi. Kekristenan dan kuasa Allah menjadi sarana untuk memperoleh kekayaan dunia dan pemuasan ambisi manusia. Kekristenan semacam ini biasanya adalah kekristenan yang bertendensi hendak mengatur dan menjadikan Tuhan “kuda tanggangan” semata-mata. Gereja yang mengajarkan pola ajaran ini kemungkinan besar akan banyak dikunjungi orang.

Orang Kristen yang menerima Injil dengan kadar rendah ini memiliki kecenderungan kurang mengabdi kepada Tuhan. Mengiring Tuhan hanya karena keuntungan pribadi. Kalaupun mereka hendak berbuat sesuatu bagi Tuhan, mereka suka berbuat hanya untuk gereja, sebab ada berkat di balik memberi bagi gereja. Dalam hal ini, persembahan disejajarkan dengan mata kail. Memberi umpan sedikit supaya mendapat ikan yang besar, memberi harta sedikit supaya mendapat berkat yang lebih besar dari Tuhan.

Anak Tuhan seperti ini biasanya kurang memberi dan memperhatikan sesamanya. Mereka memberi hanya karena mau “barter” dengan Tuhan.

Pelayan Tuhan yang mengajar-kan bahwa mengikut Yesus adalah jalan yang mudah, secara tidak langsung telah membawa jemaat Tuhan menjadi kerdil, kekanak- kanakan dan kurang bertumbuh. Bila terjadi demikian, maka cinta jemaat terhadap dunia tidak menjadi surut. Sebagai akibatnya, hati jemaat cenderung kurang merindukan Yesus dan kerajaan-Nya (bnd. Yoh 3:31; Kol 3:1- 4). Bila ini yang terjadi, maka sia-sialah Tuhan memanggil kita untuk menjadi warga Kerajaan Sorga, bila hati dan tujuan hidup kita hanya mengarah di bumi. Pada segala sesuatu yang akan binasa (2 Pet 3:12 bnd. I Yoh 2:15).

Umat Tuhan tidak sungguh-sungguh belajar kebenaran Tuhan guna mencapai tingkat rohani yang lebih tinggi

Dengan demikian jemaat menjadi malas untuk bertumbuh menuju ke kedewasaan. Bisa timbul kepuasan rohani yang mengakibatkan seseorang sombong rohani (bnd. Wah 3:17). Seorang yang merasa puas dengan hidup kerohaniannya cenderung haus dengan hal-hal duniawi. Tetapi kalau seseorang haus dan lapar akan kebenaran Allah, yaitu hal-hal rohani, maka ia akan cenderung puas dengan hal-hal duniawi. Ia akan mudah untuk mengucap syukur kepada Allah, apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Dalam berbagai kesempatan, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa mengiring Tuhan tidak mudah. Mengiring Tuhan adalah jalan yang sukar. Kebenaran ini dinyatakan Tuhan melalui beberapa penjelasan berikut ini:

Matius 7:13-14
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebiasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Ayat ini berbicara mengenai jalan lebar dan jalan sempit. Dalam kehidupan ini ada dua jalan. Jalan lebar adalah jalan mudah yang membawa manusia menuju kebinasaan dan kematian kekal. Mereka ini adalah orang-orang yang mau “nikmat hidup” dengan dunia. Mereka adalah kelompok orang yang hendak menyelamatkan nyawa mereka sendiri (Mat 10:39; 16:25; Mark 8:35; Luk 9:24; 17:33; Yoh 12:25).

Jalan menuju kehidupan kekal adalah jalan yang sempit, sesak, sukar, banyak rintangan dan sedikit orang yang mau masuk melaluinya. Ini adalah jalan yang tidak disukai orang. Ini adalah jalan yang penuh resiko. Tetapi inilah jalan yang benar yang menuju kepada kehidupan dan kebahagiaan yang kekal bersama dengan Bapa. Oleh sebab itu adalah salah kalau kita mengajarkan bahwa mengiring Tuhan itu adalah jalan yang mudah. Kepada jemaat Tuhan harus ditegaskan berulang-ulang bahwa mengiring Tuhan itu berarti sama halnya berjalan di jalan yang sukar, penuh rintangan dan resiko, dalam pergumulan yang tidak pernah usai.

Lukas 14:28-33
Perumpamaan yang Tuhan Yesus sajikan mengenai orang yang membangun menara dan raja yang maju berperang, hendak menjelaskan kepada kita bahwa mengiring Tuhan bukan hal yang gampang. Mahal harganya. Harus dipertimbangkan dengan serius.

Oleh sebab itu kekristenan harus ditawarkan secara benar. Jangan seperti iklan-iklan di layar TV yang sering kali berisi kebohongan-kebohongan atas produk yang ditawarkan. Injil harus diberitakan secara benar dan lengkap. Injil yang bermutu adalah Injil yang diberitakan secara lengkap.

Orang-orang bukan saja dipanggil untuk menjadi orang percaya yang menikmati keselamatan jiwa saja, tetapi mereka dipanggil pula untuk “mengikut Yesus” sebagai murid. Untuk menekankan betapa tidak mudahnya “pengiringan” itu, Tuhan menegaskan hitung dulu anggarannya. Menerima Yesus sebagai Juruselamat, gratis mendapat keselamatan, tetapi mengikut Yesus, harus membayar harga pengiringan itu.

Percaya Kepada Yesus Berarti Mengikut Dia
Orang yang dipanggil Tuhan adalah orang yang akan dilelahkan akibat keputusannya mengiring Yesus. Kelegaan yang diberikan Tuhan Yesus akan disusul dengan “kuk” (Mat 11:28-30). Hal ini menjadi rencana Tuhan bahwa orang-orang yang dipanggil itu juga dimuridkan. Menjadi murid seperti yang telah dijelaskan sebelumnya adalah seseorang yang sedang berguru, seseorang yang harus belajar, bergumul dan dididik agar mengalami peningkatan. Proses ini sungguh-sungguh melelahkan. Namun demikian perlu kita beri isi yang benar terhadap kata kelelahan di sini.

Ini adalah kelelahan yang disertai sukacita, damai sejahtera Allah. Ini bukanlah “kelelahan” seperti yang diucapkan Yesus dalam Matius 11:28 - Marilah kepada-Ku, semua orang yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Menjadi anak Tuhan itu berarti lepas dari kelelahan yang membinasakan (Mat 11:28), masuk ke dalam kelelahan yang membawa kenikmatan dan kehidupan. Lepas dari satu kelelahan masuk ke dalam kelelahan yang lain. Kelelahan yang pertama disebabkan oleh dosa dan berbagai kutuk penderitaannya, tetapi kelelahan yang kedua ini adalah kelelahan kuk dari Allah. Kelelahan yang kedua membawa kita pada kehidupan dan anugerah Allah.

Seseorang barulah dapat disebut pengikut Yesus kalau orang tersebut mengalami keselamatan dari Allah dan memberi diri dimuridkan. Penolakan terhadap proses pemuridan ini berarti penolakan mengikut Yesus (bnd. Luk 9:57-58; Yoh 13:13-15). Dalam kedua perikop ini, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa setiap orang percaya harus mengikuti jejak-Nya. Apa yang Yesus dapat perbuat, orang percaya juga dapat lakukan (Yoh 14:12). Ini bukan saja menyangkut kuasa dan mujizat yang sudah dilakukan-Nya, tetapi juga menyangkut kehidupan Tuhan Yesus yang harus diteladani.

Mengikut Yesus berarti meniru jejak-Nya. Jejak di sini adalah seluruh kehidupan-Nya, pola hidup dan tindakan-Nya. Jadi kalau ada seseorang mengaku mengikut Yesus tetapi tidak mengikuti jejak-Nya, ia telah berdusta terhadap orang lain dan dirinya sendiri. Dalam hal ini, ternyata banyak orang Kristen yang tertipu oleh pola pikirnya sendiri. Ada orang-orang Kristen yang merasa bahwa kalau ia menjadi orang Kristen itu berarti sudah mengikut Yesus. Belum tentu.

Tidak semua orang Kristen adalah pengikut Kristus. Lihat bagaimana hidup dan motivasi-motivasi pengiringannya. Pengikut Kristus adalah orang-orang yang rela menderita untuk Tuhan dan orang lain. Pengikut Kristus adalah orang-orang yang bersedia direndahkan asal nama Tuhan ditinggikan. Pengikut Kristus adalah orang-orang yang rela kehilangan nyawanya, bukan yang takut kehilangan nyawanya, entah itu karena kemiskinan, kelaparan atau berbagai kesulitan hidup dan penganiayaan dunia ini. Pengikut Kristus berarti mau berjalan di jalan yang sempit dan sukar, penuh kerikil tajam dan duri yang membuatnya tidak nyaman, seperti halnya Kristus telah melaluinya selama ia melayani di dunia.

MOTIVASI

Selama ini kita sering menyebut-nyebut kata motivasi. Biasanya kata motivasi dalam lingkungan Gereja dikaitkan dengan pelayanan atau pengiringan kepada Tuhan Yesus. Sebelum membahas hal kemurnian motivasi pelayanan, terlebih dahulu perlu ditinjau apa yang dimaksud dengan motivasi itu. Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang artinya bergerak. Kata movere memberikan impresi yang jelas atau menunjuk sesuatu yang aktif, dinamis dan juga bisa menunjukkan sesuatu yang berkembang atau progresif. Secara etimologis (asal usul kata); kata motivasi berasal dari kata motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah dorongan-dorongan (forces) yang membangkitkan dan menggerakkan kelakuan individu. Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang komplek, dan tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Itulah sebabnya kita dapat melihat motivasi seseorang berdasarkan tingkah lakunya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didiskripsikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Deskripsi ini memiliki kesamaan dengan pengertian motivasi di atas bila ditinjau dari etimologinya, yaitu movere. Dengan penjelasan diatas ini dapatlah ditarik konklusi bahwa motivasi menunjuk kepada sikap hati yang menghasilkan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu secara konkret. Itulah sebabnya dalam bukunya yang berjudul Teori Motivasi, penulisnya mengatakan bahwa motivasi menentukan kuat-lemahnya tingkah laku atau gerakan untuk mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya motivasi timbul karena dilandaskan pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.

Seorang penulis buku lain mengatakan mengenai motivasi sebagai berikut: Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan. Sejajar dengan ungkapan pernyataan diatas, penulis lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motif yang dimaksud ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dalam ungkapannya tersebut hendak menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang menggerakkan sebuah kegiatan atau proyek demi tercapainya sebuah tujuan tertentu dengan melahirkan atau menciptakan motif-motif lain sebagai pendukungnya.

Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam motivasi, seorang penulis buku mengenai motivasi dari Barat mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan tanggapan terhadap adanya tujuan. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa motivasi sangat berkorelasi dengan tujuan. Jika tidak ada motivasi maka tujuannya pun tidak jelas. Disini nyatalah bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah diaktifkan.

Fenomena ini ditegaskan oleh pendapat tokoh pemikir yang bernama Callahan dan Clark bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Jadi berbicara mengenai kemurnian motivasi, maka hendak dijabarkan mengenai motivasi yang seharusnya dimiliki seorang anak Tuhan dan pelayan Tuhan dalam Gereja Tuhan. Tidak ada motivasi lain dalam hidup kita kecuali mengenal Dia untuk mengabdi kepadaNya. Diluar hal ini berarti pemberontakan dan menuju kebinasaan, api kekal.

Selasa, 06 Januari 2009

SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN DIA

Tahukah saudara bahwa dalam hidup kekristenan, pemulihan karakter tugas pokok yang harus dikerjakan. Pergi kegereja dan melakukan segala activitas gerejani adalah sebuah atribut rohani, bukan napas atau jiwa kekristenan yang sejati. Kebenaran ini dapat dapat didasarkan pada Rencana Agung Allah yang sejak semula mau menciptakan manusia yang segambar dengan Dia. Jadi setiap orang yang mau menjadi orang percaya, harus mau untuk membangun karakternya sampai dapat menjadi segambar dengan Kristus. Dalam kitab Kejadian, Allah berfirman "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita." Kalimat ini berindikasi kuat bahwa Tuhan menghendaki satu mahluk yang dapat bereksistensi seperti diri-Nya. Serupa dalam nilai moral dan karakter-Nya. Keselamatan dalam Yesus Kristus proyeksinya bukanlah religius building, melainkan character building.

Dalam Roma 8:28 Alkitab berkata "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang yang mengasihi Dia." Kata kebaikan disini berarti kebaikan menjadi serupa seperti Yesus. Yang karenanya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Jadi kata kebaikan disitu bukanlah kebaikan dalam hal jodoh, keuangan, kesehatan dan kesuksesan. Kebaikan disini memuat sebuah rencana Allah yang ada pad ayat 29, "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara."

Jadi model manusia seperti apakah yang Allah inginkan? Yesuslah modelnya. Kepada model yang satu ini Allah Bapa memberi pengesahan-Nya yang berbunyi"...inilah AnakKu yang kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan." Itulah sebabnya janganlah kita heran bila Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa hendaklah kita sempurna sama seperti Bapa disorga. Sempurna disini maksudnya adalah sempurna dalam mutu kehidupan yang berkualitas seperti Yesus.

Dalam Injil Matius 5:20 Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa " Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Sorga. " Dalam teks asli Alkitab, kata "hidup keagamaanmu " disebut dikaiosune (dik-ah-yos-oo'-nay);yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah-laku yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dengan kata lain Tuhan Yesu ingin berkata kepada kita bahwa "jika tingkah-lakumu tidak benar daripada tingkah-laku tokoh-tokoh agama, maka kamu tidak akan masuk kedalam KerajaanKu." Ini merupakan suatu perkataan yang bombastis bagi setiap orang percaya. Kita harus bersyukur karena melalui ayat ini Tuhan telah memanggil kita untuk hidup dengan luar-biasa dalam tingkah-laku kita. Menjadi serupa dan segambar dengan Dia, melalui teladan hidup Kristus yang terperagakan di dalam hidup kita.

Mungkin sau dara berpikir mana mungkin saya dapat melakukan hal seperti itu? Renungkanlah sejenak saudaraku; "jika Allah kita adalah Allah yang baik, mungkinkah Ia memberi kita suatu perintah yang tidak mungkin untuk kita lakukan?" Tentu tidak! Allah yang memberi kita perintah, adalah Allah yang akan memberi kita kesanggupan untuk mentaati perintah-Nya. Yang menjadi masalah disini bukan perintah Allah yang yang tidak masuk akal, tetapi kemauan kita untuk meneladani Kristus dalam mentaati perintah tersebut. Jadi kenapa tidak mulai sekarang kita mulai mencoba untuk memiliki hidup yang meneladani Tuhan Yesus Kristus.