Selama ini kita sering menyebut-nyebut kata motivasi. Biasanya kata motivasi dalam lingkungan Gereja dikaitkan dengan pelayanan atau pengiringan kepada Tuhan Yesus. Sebelum membahas hal kemurnian motivasi pelayanan, terlebih dahulu perlu ditinjau apa yang dimaksud dengan motivasi itu. Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang artinya bergerak. Kata movere memberikan impresi yang jelas atau menunjuk sesuatu yang aktif, dinamis dan juga bisa menunjukkan sesuatu yang berkembang atau progresif. Secara etimologis (asal usul kata); kata motivasi berasal dari kata motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah dorongan-dorongan (forces) yang membangkitkan dan menggerakkan kelakuan individu. Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang komplek, dan tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Itulah sebabnya kita dapat melihat motivasi seseorang berdasarkan tingkah lakunya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didiskripsikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Deskripsi ini memiliki kesamaan dengan pengertian motivasi di atas bila ditinjau dari etimologinya, yaitu movere. Dengan penjelasan diatas ini dapatlah ditarik konklusi bahwa motivasi menunjuk kepada sikap hati yang menghasilkan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu secara konkret. Itulah sebabnya dalam bukunya yang berjudul Teori Motivasi, penulisnya mengatakan bahwa motivasi menentukan kuat-lemahnya tingkah laku atau gerakan untuk mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya motivasi timbul karena dilandaskan pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.
Seorang penulis buku lain mengatakan mengenai motivasi sebagai berikut: Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan. Sejajar dengan ungkapan pernyataan diatas, penulis lain juga mengatakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motif yang dimaksud ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dalam ungkapannya tersebut hendak menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang menggerakkan sebuah kegiatan atau proyek demi tercapainya sebuah tujuan tertentu dengan melahirkan atau menciptakan motif-motif lain sebagai pendukungnya.
Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam motivasi, seorang penulis buku mengenai motivasi dari Barat mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan tanggapan terhadap adanya tujuan. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa motivasi sangat berkorelasi dengan tujuan. Jika tidak ada motivasi maka tujuannya pun tidak jelas. Disini nyatalah bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah diaktifkan.
Fenomena ini ditegaskan oleh pendapat tokoh pemikir yang bernama Callahan dan Clark bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Jadi berbicara mengenai kemurnian motivasi, maka hendak dijabarkan mengenai motivasi yang seharusnya dimiliki seorang anak Tuhan dan pelayan Tuhan dalam Gereja Tuhan. Tidak ada motivasi lain dalam hidup kita kecuali mengenal Dia untuk mengabdi kepadaNya. Diluar hal ini berarti pemberontakan dan menuju kebinasaan, api kekal.
Minggu, 11 Januari 2009
Selasa, 06 Januari 2009
SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN DIA
Tahukah saudara bahwa dalam hidup kekristenan, pemulihan karakter tugas pokok yang harus dikerjakan. Pergi kegereja dan melakukan segala activitas gerejani adalah sebuah atribut rohani, bukan napas atau jiwa kekristenan yang sejati. Kebenaran ini dapat dapat didasarkan pada Rencana Agung Allah yang sejak semula mau menciptakan manusia yang segambar dengan Dia. Jadi setiap orang yang mau menjadi orang percaya, harus mau untuk membangun karakternya sampai dapat menjadi segambar dengan Kristus. Dalam kitab Kejadian, Allah berfirman "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita." Kalimat ini berindikasi kuat bahwa Tuhan menghendaki satu mahluk yang dapat bereksistensi seperti diri-Nya. Serupa dalam nilai moral dan karakter-Nya. Keselamatan dalam Yesus Kristus proyeksinya bukanlah religius building, melainkan character building.
Dalam Roma 8:28 Alkitab berkata "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang yang mengasihi Dia." Kata kebaikan disini berarti kebaikan menjadi serupa seperti Yesus. Yang karenanya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Jadi kata kebaikan disitu bukanlah kebaikan dalam hal jodoh, keuangan, kesehatan dan kesuksesan. Kebaikan disini memuat sebuah rencana Allah yang ada pad ayat 29, "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara."
Jadi model manusia seperti apakah yang Allah inginkan? Yesuslah modelnya. Kepada model yang satu ini Allah Bapa memberi pengesahan-Nya yang berbunyi"...inilah AnakKu yang kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan." Itulah sebabnya janganlah kita heran bila Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa hendaklah kita sempurna sama seperti Bapa disorga. Sempurna disini maksudnya adalah sempurna dalam mutu kehidupan yang berkualitas seperti Yesus.
Dalam Injil Matius 5:20 Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa " Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Sorga. " Dalam teks asli Alkitab, kata "hidup keagamaanmu " disebut dikaiosune (dik-ah-yos-oo'-nay);yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah-laku yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dengan kata lain Tuhan Yesu ingin berkata kepada kita bahwa "jika tingkah-lakumu tidak benar daripada tingkah-laku tokoh-tokoh agama, maka kamu tidak akan masuk kedalam KerajaanKu." Ini merupakan suatu perkataan yang bombastis bagi setiap orang percaya. Kita harus bersyukur karena melalui ayat ini Tuhan telah memanggil kita untuk hidup dengan luar-biasa dalam tingkah-laku kita. Menjadi serupa dan segambar dengan Dia, melalui teladan hidup Kristus yang terperagakan di dalam hidup kita.
Mungkin sau dara berpikir mana mungkin saya dapat melakukan hal seperti itu? Renungkanlah sejenak saudaraku; "jika Allah kita adalah Allah yang baik, mungkinkah Ia memberi kita suatu perintah yang tidak mungkin untuk kita lakukan?" Tentu tidak! Allah yang memberi kita perintah, adalah Allah yang akan memberi kita kesanggupan untuk mentaati perintah-Nya. Yang menjadi masalah disini bukan perintah Allah yang yang tidak masuk akal, tetapi kemauan kita untuk meneladani Kristus dalam mentaati perintah tersebut. Jadi kenapa tidak mulai sekarang kita mulai mencoba untuk memiliki hidup yang meneladani Tuhan Yesus Kristus.
Dalam Roma 8:28 Alkitab berkata "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang yang mengasihi Dia." Kata kebaikan disini berarti kebaikan menjadi serupa seperti Yesus. Yang karenanya Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Jadi kata kebaikan disitu bukanlah kebaikan dalam hal jodoh, keuangan, kesehatan dan kesuksesan. Kebaikan disini memuat sebuah rencana Allah yang ada pad ayat 29, "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara."
Jadi model manusia seperti apakah yang Allah inginkan? Yesuslah modelnya. Kepada model yang satu ini Allah Bapa memberi pengesahan-Nya yang berbunyi"...inilah AnakKu yang kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan." Itulah sebabnya janganlah kita heran bila Tuhan Yesus berkata kepada kita bahwa hendaklah kita sempurna sama seperti Bapa disorga. Sempurna disini maksudnya adalah sempurna dalam mutu kehidupan yang berkualitas seperti Yesus.
Dalam Injil Matius 5:20 Tuhan Yesus mengatakan kepada kita bahwa " Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kedalam Kerajaan Sorga. " Dalam teks asli Alkitab, kata "hidup keagamaanmu " disebut dikaiosune (dik-ah-yos-oo'-nay);yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah-laku yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dengan kata lain Tuhan Yesu ingin berkata kepada kita bahwa "jika tingkah-lakumu tidak benar daripada tingkah-laku tokoh-tokoh agama, maka kamu tidak akan masuk kedalam KerajaanKu." Ini merupakan suatu perkataan yang bombastis bagi setiap orang percaya. Kita harus bersyukur karena melalui ayat ini Tuhan telah memanggil kita untuk hidup dengan luar-biasa dalam tingkah-laku kita. Menjadi serupa dan segambar dengan Dia, melalui teladan hidup Kristus yang terperagakan di dalam hidup kita.
Mungkin sau dara berpikir mana mungkin saya dapat melakukan hal seperti itu? Renungkanlah sejenak saudaraku; "jika Allah kita adalah Allah yang baik, mungkinkah Ia memberi kita suatu perintah yang tidak mungkin untuk kita lakukan?" Tentu tidak! Allah yang memberi kita perintah, adalah Allah yang akan memberi kita kesanggupan untuk mentaati perintah-Nya. Yang menjadi masalah disini bukan perintah Allah yang yang tidak masuk akal, tetapi kemauan kita untuk meneladani Kristus dalam mentaati perintah tersebut. Jadi kenapa tidak mulai sekarang kita mulai mencoba untuk memiliki hidup yang meneladani Tuhan Yesus Kristus.
Langganan:
Postingan (Atom)